KISAH KITA
By: Ruslinah
Tuhan menciptakan pertemuan, dan
Tuhan juga tak lupa menciptakan perpisahan untuk semua orang termasuk juga
kita, teman. Perpisahan pasti akan terjadi, entah ditinggal pergi atau mati.
Seharusnya perpisahan kita dapat menghadirkan kenangan bukan malah menghapuskan
memori lalu, seharusnya.
Setiap momen yang kita lalui bersama
turut menghadirkan kisah didalamnya, menciptakan kenangan yang sayang untuk
dilupakan. Ketika aku sudah merasa nyaman dengan kalian, ketika aku sudah
merasa nyaman dengan kisah kita dan ketika itu pula Tuhan seolah telah
merencanakan sesuatu untuk kita, sesuatu yang sulit dicerna oleh akal sehat,
sesuatu yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya bahkan sesuatu yang tak pernah
aku harapkan keberadaannya.
Perpisahan? Tak ada yang
menginginkan hal itu terjadi, termasuk juga kita. Tapi mau tidak mau, suka
tidak suka, entah kita menerima atau tidak, tetap saja hal itu akan terjadi dan
pasti terjadi. “Tuhan, adilkah semua ini? Ketika kebahagiaan baru saja hendak
dimulai, kenapa seolah Engkau ingin kami segera mengakhirinya? Ataukah Engkau
hendak menghadirkan babak baru untuk kebahagiaan kami, Tuhan?”. Terlintas banyak
pertanyaan yang membuatku seolah mencoba berpikir tanpa aku tau apa yang harus
aku pikirkan, bingung!!! Seolah mencoba menjawab setiap pertanyaan dalam diri
tanpa aku tau apa jawabannya, dan kini aku hanya dapat menanti Tuhan memberi
isyarat akan setiap pertanyaan.
Salah kita yang selalu mengibaratkan
perbedaan kita sebagai “Pelangi” yang indah, tanpa kita pikirkan lagi makna
indah dari pelangi. Teman, pelangi memang indah, tapi sadarkah? Jika pelangi
indah hanya untuk sementara setelah itu keindahannya akan bias, satu persatu
warnanya akan pudar bahkan menghilang, seperti itukah kita?
Setiap orang diciptakan berbeda,
termasuk juga kita. Kita memiliki keinginan yang berbeda dan juga memiliki
cita-cita yang berbeda. Aku yang dari dulu menginginkan menjadi seorang Guru
tapi tidak dengan beberapa dari kita, aku yang merasa di Kampus Hijau ini tempatku
seharusnya berada tapi lagi-lagi tidak dengan beberapa dari kita, lebih
tepatnya dua orang dari kita. Tapi satu diantaranya tetap berada dikampus hijau
ini hanya saja berbeda jurusan, sedangkan yang satunya lebih memilih hijrah
dari kampus hijau ini dan memilih kampus yang menurutnya ditempat itu
seharusnya dia berada.
Awalnya aku berusaha membujuk kalian agar jangan pergi, jangan
tinggalkan kami yang masih menetap disini, tapi lagi-lagi aku diingatkan bahwa
setiap orang memiliki keinginan berbeda yang tak semuanya sama sepertiku. Saat
ini, aku lebih memilih bungkam, seolah hendak melupakan perpisahan yang akan
terjadi pada kita, seolah berkata “pergilah kawan, gapailah keinginan kalian,
raihlah cita-cita kalian, semoga kelak kita akan dipertemukan kembali dalam
keadaan sukses”, berpura-pura tetap tegar, seolah-olah merelakan padahal ingin
sekali aku mengatakan “jangan pergi kawan, ayo kita selesaikan kuliah kita
bersama-sama, lulus bersama, dan kita sukses bersama” bukankah waktu itu pernah
terbesit keinginan kita untuk foto bersama ketika kita wisuda nanti :’)
Kini harapan tinggalah harapan tak mungkin menjadi kenyataan
tak mungkin pula menjadi kenangan yang dapat dikisahkan. Aku sadar segala yang
terjadi didunia ini tak ada yang kebetulan, Tuhan telah merencanakan semuanya
untuk kita, untuk pertemuan kita dan bahkan untuk perpisahan kita.
Dan kini, Tuhan tengah mempersiapkan skenario untuk kita,
untuk kita lalui. Mungkin perpisahan ini adalah langkah awal kita menuju kisah
yang sesungguhnya, kisah yang sayang untuk dilupakan sehingga menjadikan kita
pribadi yang dapat menghargai setiap pertemuan karna kita pernah merasakan apa
itu perpisahan. Dan mungkin Tuhan tengah mempersiapkan babak baru untuk kita,
yang tentunya lebih indah dari kisah kita sebelumnya, semoga perpisahan ini
dapat menciptakan rindu yang berkepanjangan hingga kita dapat menyempatkan
sedikit waktu untuk bertemu meski hanya sekedar bertatap muka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar