Kamis, 30 Maret 2017

Allah maha adil

                Saya pernah menjalin asmara selama 7 tahun lebih dengan seorang pria yang sempat saya yakini sebagai jodoh saya. Tapi kini semuanya berubah dan hidup sayapun turut berubah.
          Berawal dari cinta monyet, saya cinta dan dia monyetnya *justkidd. Ketika saya menginjak bangku sekolah menengah pertama kelas 3, masih terbilang sangat belia untuk mengenal apa itu cinta. Tapi kembali lagi tidak ada yang terjadi secara kebetulan, kesalahan saya dimasa lalu banyak memberikan ibroh dalam hidup saya saat ini, insyaAllah sampai nanti.
          Dimulai dari suatu pagi yang cerah, ketika itu saya sedang piket kelas, mau tidak mau saya datang kesekolah lebih pagi, dannnnn dia pun sebut saja Adi (nama samaran) selalu datang kesekolah lebih pagi. Ketika dia hendak masuk kelas saya langsung berkata “waalaikumsalam” padahal sejatinya dia belum mengucap salam, dan itu saya lakukan di setiap pagi, kalian tau apa tanggapannya? Dia hanya membalas dengan senyum, dan guys “he’s so cool” itu kata teman-teman saya, sedangkan saya hanya menganggap dia teman biasa, ya biasa saja.
          Lambat laun, saya berteman dekat dengan Adi, awalnya Adi hanya saya anggap hanya sebagai teman curhat, tapi lama kelamaan ada rasa yang saya sebut dengan cinta MONYET :D, di awal menjalin hubungan sama-sama berjanji untuk tidak mengatakan kata “putus”, 1 tahun pertama berjalan dengan lancarrrr selancar orang yang berselancar. Ditahun pertama Adi sosok yang sabar, pengertian, dan tidak pernah marah. Tapi ditahun kedua tepatnya ketika menginjak kelas 2 SMA, Adi perlahan berubah, yang dulunya tidak pernah marah jadi gampang marah, dan menjadi over protektif. Sejak perubahannya itu juga kita jadi sering putus nyambung, entah sudah tak terhitung lagi dalam hitungan jari tangan ataupun kaki.
          Dan setiap mengakhiri hubungan selalu dia yang memutuskan, dan dia pula yang ingin kembali memperbaiki. Dan saya entah polos atau bodoh selalu memaafkan kesalahan yang entah sudah berapa kali dia lakukan. Atau mungkin karna saya masih cinta pada saat itu maka sayapun kembali menerima dia, dan dia selalu berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya lagi. Tapi yah janji tinggal janji, dan yang diingkaripun terus-terusan disakiti.
          Alhamdulillah saya bukan orang pendendam dan mudah sekali untuk memaafkan, tapi sayangnya semua itu tidak bisa Adi syukuri, ia tetap saja melakukan kesalahan yang sama, dan saya masih saja bertahan kebodohan saya hingga 7 tahun. Dan akhirnya ditahun ketujuh membuat saya benar-benar jengah, ketika saya sedang KKN disuatu daerah yang ada di sums*l, kembali lagi ia dengan sikap kekanakkannya, dengan sifat pemarahnya, dengan sikap over protektifnya beraksi seperti tahun-tahun sebelumnya. Akhirnya kalimat “putus” pun ia syairkan lagi. Dan beberapa hari berikutnya ia kembali tanpa dosa ingin memperbaiki segalanya. Tapi entah seolah Allah memberikan saya jalan lain, seolah lelah ketika hambaNya terus-terusan disakiti oleh seseorang yang sejatinya seorang hamba pula, akhirnya dengan keadilannya Allah memberi isyarat lain agar saya mundur dari segalanya, mundur dari segala kebodohanku.

          Pernah disuatu malam saya terbangun di sepertiga malam, seolah Allah ingin saya curhat tentang segala gundah gulana yang saya rasa, akhirnya dengan langkah yang masih berat saya coba untuk mengadukan segalanya pada Allah dalam sepertiga malam. Dan sejak saat itu entah hidayah atau apapun itu tapi sejak dari situ saya benar-benar yakin untuk tidak melanjutkan kisah sebelumnya. Dan kini, sungguh saya baru menemukan seperti apa saya seharusnya, kenapa tidak dari dulu usaikan segalanya. Sungguh hati ini benar-benar tenang, Allah sungguh adil. Ia biarkan saya terluka dulu kemudian Ia peluk hambaNya dengan isyarat semoga hambaNya kembali ke jalanNya, Allah biarkan kita tersesat dulu kemudian dengan keadilanNya ia tuntun kita kembali dalam pelukanNya, dan subhanallah sungguh baru dapat aku rasakan begitu indah taat padaMu yaa Rabb, dan ini juga tak lepas dari kekagumanku terhadap seorang hambaNya yang taat pada Allah, sungguh untuk pertama kalinya saya mengagumi seseorang atas dasar agamanya, atas dasar ketaatannya, atas dasar cintanya terhadap Rabbnya. Tapi saya akan tetap ingat janji saya untuk menjauhi diri dari istilah “pacaran”, berusaha tetap memperbaiki diri, berusaha tetap istiqomah. Hingga saat nanti ada seorang pria yang sengaja Allah pilih sebagai imamku, sebagai penyempurna imanku yang belum seberapa ini, yang bersedia membimbing saya semakin dekat dengan Allah, yang dengannya saya yakin dapat meraih Jannah. InsyaAllah aamiin. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar