Saya pernah
menjalin asmara selama 7 tahun lebih dengan seorang pria yang sempat saya
yakini sebagai jodoh saya. Tapi kini semuanya berubah dan hidup sayapun turut
berubah.
Berawal dari
cinta monyet, saya cinta dan dia monyetnya *justkidd. Ketika saya menginjak
bangku sekolah menengah pertama kelas 3, masih terbilang sangat belia untuk
mengenal apa itu cinta. Tapi kembali lagi tidak ada yang terjadi secara
kebetulan, kesalahan saya dimasa lalu banyak memberikan ibroh dalam hidup saya
saat ini, insyaAllah sampai nanti.
Dimulai dari
suatu pagi yang cerah, ketika itu saya sedang piket kelas, mau tidak mau saya
datang kesekolah lebih pagi, dannnnn dia pun sebut saja Adi (nama samaran)
selalu datang kesekolah lebih pagi. Ketika dia hendak masuk kelas saya langsung
berkata “waalaikumsalam” padahal sejatinya dia belum mengucap salam, dan itu
saya lakukan di setiap pagi, kalian tau apa tanggapannya? Dia hanya membalas
dengan senyum, dan guys “he’s so cool” itu kata teman-teman saya, sedangkan saya
hanya menganggap dia teman biasa, ya biasa saja.
Lambat laun,
saya berteman dekat dengan Adi, awalnya Adi hanya saya anggap hanya sebagai teman
curhat, tapi lama kelamaan ada rasa yang saya sebut dengan cinta MONYET :D, di
awal menjalin hubungan sama-sama berjanji untuk tidak mengatakan kata “putus”,
1 tahun pertama berjalan dengan lancarrrr selancar orang yang berselancar. Ditahun
pertama Adi sosok yang sabar, pengertian, dan tidak pernah marah. Tapi ditahun
kedua tepatnya ketika menginjak kelas 2 SMA, Adi perlahan berubah, yang dulunya
tidak pernah marah jadi gampang marah, dan menjadi over protektif. Sejak perubahannya
itu juga kita jadi sering putus nyambung, entah sudah tak terhitung lagi dalam
hitungan jari tangan ataupun kaki.
Dan setiap
mengakhiri hubungan selalu dia yang memutuskan, dan dia pula yang ingin kembali
memperbaiki. Dan saya entah polos atau bodoh selalu memaafkan kesalahan yang
entah sudah berapa kali dia lakukan. Atau mungkin karna saya masih cinta pada
saat itu maka sayapun kembali menerima dia, dan dia selalu berjanji tidak akan
mengulangi kesalahannya lagi. Tapi yah janji tinggal janji, dan yang diingkaripun
terus-terusan disakiti.
Alhamdulillah saya
bukan orang pendendam dan mudah sekali untuk memaafkan, tapi sayangnya semua
itu tidak bisa Adi syukuri, ia tetap saja melakukan kesalahan yang sama, dan
saya masih saja bertahan kebodohan saya hingga 7 tahun. Dan akhirnya ditahun
ketujuh membuat saya benar-benar jengah, ketika saya sedang KKN disuatu daerah
yang ada di sums*l, kembali lagi ia dengan sikap kekanakkannya, dengan sifat
pemarahnya, dengan sikap over protektifnya beraksi seperti tahun-tahun
sebelumnya. Akhirnya kalimat “putus” pun ia syairkan lagi. Dan beberapa hari
berikutnya ia kembali tanpa dosa ingin memperbaiki segalanya. Tapi entah seolah
Allah memberikan saya jalan lain, seolah lelah ketika hambaNya terus-terusan
disakiti oleh seseorang yang sejatinya seorang hamba pula, akhirnya dengan
keadilannya Allah memberi isyarat lain agar saya mundur dari segalanya, mundur
dari segala kebodohanku.
Pernah disuatu
malam saya terbangun di sepertiga malam, seolah Allah ingin saya curhat tentang
segala gundah gulana yang saya rasa, akhirnya dengan langkah yang masih berat
saya coba untuk mengadukan segalanya pada Allah dalam sepertiga malam. Dan sejak
saat itu entah hidayah atau apapun itu tapi sejak dari situ saya benar-benar
yakin untuk tidak melanjutkan kisah sebelumnya. Dan kini, sungguh saya baru
menemukan seperti apa saya seharusnya, kenapa tidak dari dulu usaikan
segalanya. Sungguh hati ini benar-benar tenang, Allah sungguh adil. Ia biarkan
saya terluka dulu kemudian Ia peluk hambaNya dengan isyarat semoga hambaNya
kembali ke jalanNya, Allah biarkan kita tersesat dulu kemudian dengan keadilanNya
ia tuntun kita kembali dalam pelukanNya, dan subhanallah sungguh baru dapat aku
rasakan begitu indah taat padaMu yaa Rabb, dan ini juga tak lepas dari
kekagumanku terhadap seorang hambaNya yang taat pada Allah, sungguh untuk
pertama kalinya saya mengagumi seseorang atas dasar agamanya, atas dasar
ketaatannya, atas dasar cintanya terhadap Rabbnya. Tapi saya akan tetap ingat
janji saya untuk menjauhi diri dari istilah “pacaran”, berusaha tetap memperbaiki
diri, berusaha tetap istiqomah. Hingga saat nanti ada seorang pria yang sengaja
Allah pilih sebagai imamku, sebagai penyempurna imanku yang belum seberapa ini,
yang bersedia membimbing saya semakin dekat dengan Allah, yang dengannya saya
yakin dapat meraih Jannah. InsyaAllah aamiin.