Selasa, 04 April 2017

KISAH KITA (7R)



KISAH KITA
By: Ruslinah  
            Tuhan menciptakan pertemuan, dan Tuhan juga tak lupa menciptakan perpisahan untuk semua orang termasuk juga kita, teman. Perpisahan pasti akan terjadi, entah ditinggal pergi atau mati. Seharusnya perpisahan kita dapat menghadirkan kenangan bukan malah menghapuskan memori lalu, seharusnya.
            Setiap momen yang kita lalui bersama turut menghadirkan kisah didalamnya, menciptakan kenangan yang sayang untuk dilupakan. Ketika aku sudah merasa nyaman dengan kalian, ketika aku sudah merasa nyaman dengan kisah kita dan ketika itu pula Tuhan seolah telah merencanakan sesuatu untuk kita, sesuatu yang sulit dicerna oleh akal sehat, sesuatu yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya bahkan sesuatu yang tak pernah aku harapkan keberadaannya.
            Perpisahan? Tak ada yang menginginkan hal itu terjadi, termasuk juga kita. Tapi mau tidak mau, suka tidak suka, entah kita menerima atau tidak, tetap saja hal itu akan terjadi dan pasti terjadi. “Tuhan, adilkah semua ini? Ketika kebahagiaan baru saja hendak dimulai, kenapa seolah Engkau ingin kami segera mengakhirinya? Ataukah Engkau hendak menghadirkan babak baru untuk kebahagiaan kami, Tuhan?”. Terlintas banyak pertanyaan yang membuatku seolah mencoba berpikir tanpa aku tau apa yang harus aku pikirkan, bingung!!! Seolah mencoba menjawab setiap pertanyaan dalam diri tanpa aku tau apa jawabannya, dan kini aku hanya dapat menanti Tuhan memberi isyarat akan setiap pertanyaan.
            Salah kita yang selalu mengibaratkan perbedaan kita sebagai “Pelangi” yang indah, tanpa kita pikirkan lagi makna indah dari pelangi. Teman, pelangi memang indah, tapi sadarkah? Jika pelangi indah hanya untuk sementara setelah itu keindahannya akan bias, satu persatu warnanya akan pudar bahkan menghilang, seperti itukah kita?
            Setiap orang diciptakan berbeda, termasuk juga kita. Kita memiliki keinginan yang berbeda dan juga memiliki cita-cita yang berbeda. Aku yang dari dulu menginginkan menjadi seorang Guru tapi tidak dengan beberapa dari kita, aku yang merasa di Kampus Hijau ini tempatku seharusnya berada tapi lagi-lagi tidak dengan beberapa dari kita, lebih tepatnya dua orang dari kita. Tapi satu diantaranya tetap berada dikampus hijau ini hanya saja berbeda jurusan, sedangkan yang satunya lebih memilih hijrah dari kampus hijau ini dan memilih kampus yang menurutnya ditempat itu seharusnya dia berada.
Awalnya aku berusaha membujuk kalian agar jangan pergi, jangan tinggalkan kami yang masih menetap disini, tapi lagi-lagi aku diingatkan bahwa setiap orang memiliki keinginan berbeda yang tak semuanya sama sepertiku. Saat ini, aku lebih memilih bungkam, seolah hendak melupakan perpisahan yang akan terjadi pada kita, seolah berkata “pergilah kawan, gapailah keinginan kalian, raihlah cita-cita kalian, semoga kelak kita akan dipertemukan kembali dalam keadaan sukses”, berpura-pura tetap tegar, seolah-olah merelakan padahal ingin sekali aku mengatakan “jangan pergi kawan, ayo kita selesaikan kuliah kita bersama-sama, lulus bersama, dan kita sukses bersama” bukankah waktu itu pernah terbesit keinginan kita untuk foto bersama ketika kita wisuda nanti :’)
Kini harapan tinggalah harapan tak mungkin menjadi kenyataan tak mungkin pula menjadi kenangan yang dapat dikisahkan. Aku sadar segala yang terjadi didunia ini tak ada yang kebetulan, Tuhan telah merencanakan semuanya untuk kita, untuk pertemuan kita dan bahkan untuk perpisahan kita.
Dan kini, Tuhan tengah mempersiapkan skenario untuk kita, untuk kita lalui. Mungkin perpisahan ini adalah langkah awal kita menuju kisah yang sesungguhnya, kisah yang sayang untuk dilupakan sehingga menjadikan kita pribadi yang dapat menghargai setiap pertemuan karna kita pernah merasakan apa itu perpisahan. Dan mungkin Tuhan tengah mempersiapkan babak baru untuk kita, yang tentunya lebih indah dari kisah kita sebelumnya, semoga perpisahan ini dapat menciptakan rindu yang berkepanjangan hingga kita dapat menyempatkan sedikit waktu untuk bertemu meski hanya sekedar bertatap muka.

Kamis, 30 Maret 2017

Allah maha adil

                Saya pernah menjalin asmara selama 7 tahun lebih dengan seorang pria yang sempat saya yakini sebagai jodoh saya. Tapi kini semuanya berubah dan hidup sayapun turut berubah.
          Berawal dari cinta monyet, saya cinta dan dia monyetnya *justkidd. Ketika saya menginjak bangku sekolah menengah pertama kelas 3, masih terbilang sangat belia untuk mengenal apa itu cinta. Tapi kembali lagi tidak ada yang terjadi secara kebetulan, kesalahan saya dimasa lalu banyak memberikan ibroh dalam hidup saya saat ini, insyaAllah sampai nanti.
          Dimulai dari suatu pagi yang cerah, ketika itu saya sedang piket kelas, mau tidak mau saya datang kesekolah lebih pagi, dannnnn dia pun sebut saja Adi (nama samaran) selalu datang kesekolah lebih pagi. Ketika dia hendak masuk kelas saya langsung berkata “waalaikumsalam” padahal sejatinya dia belum mengucap salam, dan itu saya lakukan di setiap pagi, kalian tau apa tanggapannya? Dia hanya membalas dengan senyum, dan guys “he’s so cool” itu kata teman-teman saya, sedangkan saya hanya menganggap dia teman biasa, ya biasa saja.
          Lambat laun, saya berteman dekat dengan Adi, awalnya Adi hanya saya anggap hanya sebagai teman curhat, tapi lama kelamaan ada rasa yang saya sebut dengan cinta MONYET :D, di awal menjalin hubungan sama-sama berjanji untuk tidak mengatakan kata “putus”, 1 tahun pertama berjalan dengan lancarrrr selancar orang yang berselancar. Ditahun pertama Adi sosok yang sabar, pengertian, dan tidak pernah marah. Tapi ditahun kedua tepatnya ketika menginjak kelas 2 SMA, Adi perlahan berubah, yang dulunya tidak pernah marah jadi gampang marah, dan menjadi over protektif. Sejak perubahannya itu juga kita jadi sering putus nyambung, entah sudah tak terhitung lagi dalam hitungan jari tangan ataupun kaki.
          Dan setiap mengakhiri hubungan selalu dia yang memutuskan, dan dia pula yang ingin kembali memperbaiki. Dan saya entah polos atau bodoh selalu memaafkan kesalahan yang entah sudah berapa kali dia lakukan. Atau mungkin karna saya masih cinta pada saat itu maka sayapun kembali menerima dia, dan dia selalu berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya lagi. Tapi yah janji tinggal janji, dan yang diingkaripun terus-terusan disakiti.
          Alhamdulillah saya bukan orang pendendam dan mudah sekali untuk memaafkan, tapi sayangnya semua itu tidak bisa Adi syukuri, ia tetap saja melakukan kesalahan yang sama, dan saya masih saja bertahan kebodohan saya hingga 7 tahun. Dan akhirnya ditahun ketujuh membuat saya benar-benar jengah, ketika saya sedang KKN disuatu daerah yang ada di sums*l, kembali lagi ia dengan sikap kekanakkannya, dengan sifat pemarahnya, dengan sikap over protektifnya beraksi seperti tahun-tahun sebelumnya. Akhirnya kalimat “putus” pun ia syairkan lagi. Dan beberapa hari berikutnya ia kembali tanpa dosa ingin memperbaiki segalanya. Tapi entah seolah Allah memberikan saya jalan lain, seolah lelah ketika hambaNya terus-terusan disakiti oleh seseorang yang sejatinya seorang hamba pula, akhirnya dengan keadilannya Allah memberi isyarat lain agar saya mundur dari segalanya, mundur dari segala kebodohanku.

          Pernah disuatu malam saya terbangun di sepertiga malam, seolah Allah ingin saya curhat tentang segala gundah gulana yang saya rasa, akhirnya dengan langkah yang masih berat saya coba untuk mengadukan segalanya pada Allah dalam sepertiga malam. Dan sejak saat itu entah hidayah atau apapun itu tapi sejak dari situ saya benar-benar yakin untuk tidak melanjutkan kisah sebelumnya. Dan kini, sungguh saya baru menemukan seperti apa saya seharusnya, kenapa tidak dari dulu usaikan segalanya. Sungguh hati ini benar-benar tenang, Allah sungguh adil. Ia biarkan saya terluka dulu kemudian Ia peluk hambaNya dengan isyarat semoga hambaNya kembali ke jalanNya, Allah biarkan kita tersesat dulu kemudian dengan keadilanNya ia tuntun kita kembali dalam pelukanNya, dan subhanallah sungguh baru dapat aku rasakan begitu indah taat padaMu yaa Rabb, dan ini juga tak lepas dari kekagumanku terhadap seorang hambaNya yang taat pada Allah, sungguh untuk pertama kalinya saya mengagumi seseorang atas dasar agamanya, atas dasar ketaatannya, atas dasar cintanya terhadap Rabbnya. Tapi saya akan tetap ingat janji saya untuk menjauhi diri dari istilah “pacaran”, berusaha tetap memperbaiki diri, berusaha tetap istiqomah. Hingga saat nanti ada seorang pria yang sengaja Allah pilih sebagai imamku, sebagai penyempurna imanku yang belum seberapa ini, yang bersedia membimbing saya semakin dekat dengan Allah, yang dengannya saya yakin dapat meraih Jannah. InsyaAllah aamiin. 

Rabu, 29 Maret 2017

Mengenai saya

Halo, ini postingan pertama saya, saya mulai dengan memperkenalkan siapa saya.
Well, namaku Ruslinah, boleh dipanggil Rus atau Linah. Usia saat ini 21tahun. Saat ini saya tengah berjuang sebagai mahasiswa semester akhir di salah satu Universitas di Palembang, lebih tepatnya di UIN Raden Fatah Palembang jurusan PGMI (Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah). yaa... saya calon seorang guru Madrasah, bukan tanpa alasan saya memilih jurusan tersebut tapi karena memang dari dulu saya berita-cita sebagai guru. 
Menurut saya, Guru adalah cita-cita yang mulia, yahh alasan klasik but it's true. Disamping kita bekerja mencari uang, disisi lain juga sebagai ladang pahala bagi kita. Dan keuntungan lainnya menjadi Guru adalah jika seandainya suatu saat kita dipertemukan dengan jodohnya dan kita membangun rumah tangga bersama suami kita kelak, otomatis waktu kita akan terbagi dan pekerjaan sebagai Guru sama sekali tidak menganggu waktu kita. Kenapa saya katakan tidak menganggu? sekarang kita lihat, pekerjaan guru paling-paling hanya sampai siang atau paling lama sampai sore, dan diwaktu malam setidaknya kita punya waktu luang bersama keluarga kita kelak. 
Sekarang kita bandingkan dengan perempuan yang pekerjaannya menuntut dia harus pulang malam atau lembur, mungkin waktunya untuk bersama keluarga lebih minim daripada perempuan yang bekerja sebagai seorang Guru. Terlebih lagi jika suaminya kelak tidak mengizinkan kita untuk pulang malam, dan akhirnya kita diharuskan untuk mengorbankan pekerjaan kita. Itu pendapat saya, tapi pada intinya semua pekerjaan itu baik selagi memang pekerjaan itu baik. Well girls pandai-pandailah menentukan pilihan untuk hidupmu saat ini, juga nanti.